Hayo, Siapa yang "Paling Kafir" di antara Kita?
Coba perhatikan baik-baik ilustrasi atau "gambar kartun" di bawah ini. Kemudian bernafaslah secara pelan-pelan, kosongkan pikiran dan segala perasaan yang aneh-aneh. Kita coba meditasi, bertafakur, atau mengheningkan cipta sejenak. Setelah itu mari kita pikirkan dan renungkan dalam-dalam gambar ini dengan akal sehat dan nurani yang paling dalam. 

Untuk sementara hilangkan sebentar rasa amarah, emosi, dan egoisme kita. Untuk sementara hilangkan asumsi-asumsi primordial bahwa "sayalah yang paling benar, agamakulah yang paling otentik, Tuhankulah yang paling Tuhan." Untuk sementara, coba bayangkan jika "kamu" adalah "mereka". Coba bayangkan, jika "mereka" kamu tertawakan dan olok-olok. Juga coba Anda bayangkan, jika mereka menertawakan dan mengolok-olok kamu.  

Jika Anda merasa sakit ketika diolok-olok dan ditertawakan, mereka juga sama. Jika Anda merasa dan bersikukuh bukan "menyembah benda mati" (apapun bentuknya: patung, batu, pohon, dlsb), mereka juga sama. Jika Anda mengklaim dan meyakini apa yang Anda sembah itu adalah "zat" yang bernama Tuhan, bukan patung, batu, pohon dan lainnya, mereka juga sama. Karena itu janganlah suka menertawakan dan mengolok-olok agama dan sistem kepercayaan orang lain. 

Karena Tuhan adalah "Zat" yang "Maha Gaib", yang "Supra-natural" (Supernatural Being) sehingga "wujud"-Nya tidak bisa ditangkap oleh manusia yang merupakan "mahluk biasa" yang kotor-njetor ini, maka yang bisa mereka lakukan adalah menciptakan "simbol-simbol sakral" tertentu yang dianggap sebagai manifestasi "kekuatan supernatural-keilahian" sebagai medium untuk mengekspresikan kedekatan dan kebaktian terhadap "Tuhan" mereka. 

Apakah umat Kristen, Konghucu, atau Hindu, misalnya, menyembah patung? Tentu saja tidak. Kalau mereka umat "penyembah patung", tentu semua patung mereka sembah. Tapi kenyatanya tidak. Apakah suku-suku tertentu penyembah pohon? Tentu saja tidak. Buktinya tidak semua pohon mereka sembah. Lalu, apakah kaum Muslim adalah penyembah batu hanya karena mereka sujud di depan Ka'bah? Tentu saja tidak karena memang tidak semua batu mereka "sembah."

Kenapa hanya "patung itu", "pohon itu", dan "batu itu" saja yang mereka sucikan? Kenapa? Karena pada hakikatnya bukan patung, pohon, dan batu itu yang mereka "sembah", melainkan "zat sakral" (apapun namanya) di balik patung, pohon, dan batu itu. Jadi, jangan menuduh umat lain "kafir", kalau Anda juga sebetulnya melakukan "kekafiran" yang sama. Sebaliknya, jika Anda merasa "tidak kafir" dan merasa sebagai "penyembah Tuhan", mereka juga demikian. 

Karena itu marilah kita saling bersikap toleran, menghargai dan menghormati agama, kepercayaan keyakinan sesama umat manusia, bukan malah saling mencaci-maki dan menertawakan antar sesama mahluk Tuhan Yang Maha Kuasa. 

Jabal Dhahran, Arabia

Catatannya Borii Thursday, 13 October 2016
Gunung Merbabu via Suwanting
Gunung Merbabu memiliki ketinggian 3.142 mdpl dan bersebelahan dengan Gunung Merapi, puncak sejatinya bernama Kenteng song da nada beberapa puncak lagi puncak suwanting, Puncak Trianggulasi, puncak syarif,   Gunung Merbabu sendiri berada di empat wilayah Kabupaten, yakni  di bagian barat masuk kedalam kabupaten Magelang, di bagian timurnya ada di boyolali, di bagian selatan ada di salatiga dan di sebelah utara gunung ini masuk ke wilayah Semarang Provisnsi Jawa Tengah.
Nama Merbabu Sendiri berasal dari kata “Meru dan “Babu” Meru sendiri mempunyai arti gunung dan Babu memiliki arti Wanita. Gunung ini memiliki 5 buah kawah, yakni kawah condrodimuko, kawah kombang, kawah Kendang, Kawah Rebab, dan Kawah Sambernyowo.
Tak Jauh Berbeda dengan Gunung-Gunung lain Gunung Merbabu juga tak lepas dari Mitos yang beredar di masyarakat kaki gunung nya, bahwa dahulu kala ada kerajaan Jawa yang sangat besar terkubur di dalam Gunung Merapi dan Merbabu yang berkaitan dengan Mataram Kuno. Di kawasan ini juga di percaya juga terdapat pasar setan yang menjadi pusat jual beli para mahluk halus.
Gunung Merbabu sendiri termasuk dalam Gunung yang memiliki lumayan banyak jalur Pendakian, ada sekitar 6 jalur pendakian, Jalur Pendakian Selo, Jalur Pendakian Wekas, Jalur pendakian Kopeng, Cunthel, Thekelan, dan Jalur pendakian yang baru di buka kembali awal tahun lalu yaitu Suwanting. Pada setiap jalurnya pun memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda namun sama-sama memiliki pemandangan yang luar biasa indah.

PENDAKIAN G. MERBABU VIA SUWANTING
Jalur pendakian Suwanting adalah jalur baru dalam pendakian Gunung Merbabu. Gunung Merbabu memiliki banyak jalur pendakian antara lain jalur Selo dari Magelang/Boyolali , jalur Kopeng dari Salatiga , jalur Wekas dari Magelang , dan Suwanting dari Magelang. Jalur Selo adalah jalur dengan pemandangan terindah menurut para pendaki. Namun dengan dibukanya jalur baru sekitar pada bulan Maret 2015 yakni jalur Suwanting, yang letaknya tidak jauh dari Selo, maka menambah satu lagi jalur pendakian yang paling indah di gunung Merbabu.


Berdasarkan cerita setempat, jalur Suwanting ini pernah dibuka pada tahun 1990 sampai tahun 1998. Setelah 1998 itulah jalur tersebut ditutup. Dan pada pertengahan Maret 2015 jalur ini dibuka kembali.

  


Jalur pendakian gunung Merbabu via Suwanting terletak di dusun Suwanting, desa Banyuroto, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang. Lokasinya sekitar 4 km dari gardu pandang Ketep.


Akses untuk menuju Dusun Suwanting tidaklah sulit. Apalagi sekarang sudah didukung dengan teknologi GPS di gadget atau smartphone yang semua orang punya. Dari arah Jakarta atau jawa timur bila melalui jalur Yogyakarta. Dari Jogja menuju kabupaten Muntilan lalu menuju Ketep. Akomodasinya juga sangat mudah. Dari Yogyakarta bisa menggunakan moda transportasi bus. Yang terpenting jika bingung maka tanyalah ke orang. Dan jangan lupa gunakan smartphone Anda.

MEMULAI PENDAKIAN

Basecamp Suwanting – Pos 1 (30 menit)
Perjalanan awal setelah meninggalkan basecamp kita akan meninggalkan beberapa rumah warga kemudian setelah keluar dari perumahan lalu melintasi jalan dengan pemandangan kanan kiri ladang warga. Ladang berupa tanaman pegunungan. Suasana sangat sejuk dan trek cenderung datar agak menanjak sedikit. Perjalanan dari basecamp menuju Pos 1 hanya 30 menit – 45 menit. Sebelum sampai Pos 1 kita bertemu dengan hutan pinus (penuh dengan pohon pinus rapat).

Pos 1 – Pos 2 (1,5 jam)
Setelah meninggalkan Pos 1 dan hutan pinus kemudian kita menjumpai trek yang lebih berat dari sebelumnya. Jalur didominasi dengan vegetasi rimbun dan tanjakkan. Dari Pos 2 menuju Pos 3 memakan waktu sekitar 90 menit (1,5 jam).

Pos 2 – Pos 3 (2 jam)
Di Pos 2 inilah biasa para pendaki untuk mendirikan tenda alias ngecamp . Di pos ini pula kita dapat melihat pemandangan gunung Merapi. Perjalanan dilanjutkan menuju Pos 3 membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Trek jauh lebih sulit dari sebelumnya. Sebelum sampai di Pos 3 kita akan menjumpai sumber air yang bernama “Sendang Dampo Awang”.

Pos 3 – Puncak Keteng Songo (1,5 jam)
Di Pos 3 ini pula juga menjadi tempat favorit untuk ngecamp. Dari Pos 3 ini terlihat pemandangan yang sangat indah yakni gunung Sindoro-Sumbing, Merapi dan beberapa gunung lain tampak sayup-sayup. Perjalanan menuju ke puncak Keteng Songo atau Triangulasi kita akan melewati beberapa bukit dengan tumbuhan rumput yang rimbun. Perbukitan tersebut dinamakan dengan “sabana”. 







Dari Pos 3 menuju puncak kita akan melewati sabana 1, sabana 2, dan sabana 3. Sabana via jalur Suwanting sama cantiknya dengan jalur via Selo. Hanya 1,5 jam saja untuk summit attack dari Pos 3.
Jika ditotal maka bisa kita kalkulasikan:
Basecamp Suwanting – Pos 1 (30 menit)
Pos 1 – Pos 2 (1,5 jam)
Pos 2 – Pos 3 (2 jam)
Pos 3 – Puncak Keteng Songo (1,5 jam)
TOTAL = 5 jam 30 menit perjalanan naik – 7jam
Perjalanan turun sekitar 4-5 jam.


TIPS PENDAKIAN

1. Pilihlah hari yang bagus untuk mendaki, usahakan jangan waktu hujan
2. Latihan fisik seminggu sebelum hari H
3. Persiapkan tim dan perlengkapan yang akan dibawa . Jangan lupa bawa sesuatu misal benda kesayangan atau tulisan untuk seseorang supaya bisa foto bareng saat di puncak
4. Tim yang solid adalah 5-8 orang. Jika sedikit usahakan 3 orang (1 orang harus sudah pernah naik gunung)
5. Jangan sepelekan keselamatan. Pakai sandal atau sepatu gunung dan jaket gunung. Bawa makanan dan air secukupnya jangan terlalu sedikit dan jangan terlalu banyak. Yang paling penting jangan melanggar peraturan dan jangan buang sampah di gunung
6. Untuk pendakian Merbabu kita bisa naik pagi atau malam. Jika pagi bagusnya pukul 10-13. Jika malam 6-7
7. Dirikan tenda di tempat yang datar dan usahakan diselimuti pohon atau semak supaya tidak terkena angin gunung langsung
8. Jika ada anggota kelompok yang tidak bisa melanjutkan perjalanan sebaiknya ditemani. Atau jika sakit parah langsung beritahu dengan kelompok lain.


INFORMASI GUNUNG MERBABU
Nama: Gunung Merbabu
Ketinggian: 3.142 m (10.630 kaki)
Lokasi: Magelang (barat), Semarang (utara), Boyolali (timur) , Salatiga (Selatan), Jawa Tengah
Letusan terakhir: 1560 dan 1797
Pengelola: Taman Nasional Gunung Merbabu
Alamat: Jl. Merbabu no.136 Boyolali, Jawa Tengah – Indonesia
Phone : +62 276 3293341
email : info[at]merbabunationalpark.org
Spot alam: Hutan, Sabana, Bukit,
Sumber air: Ada di jalur Wekas (Pos 2)
Flora: Pinus merkusii, Puspa, Akasia, Soro, Cemara gunung, Edelweis jawa
Fauna: elang jawa, elang hitam, alap-alap sapi, elang-ular bido, ayam hutan, tekukur, gelatik batu, kijang, landak, musang luwak, monyet ekor-panjang, dan lain-lain.
Hutan: Hutan Dipterokarp Bukit, Hutan Dipterokarp Atas, Hutan Montane, dan hutan Ericaceous atau hutan gunung
Jalur pendakian:
Selo (dari Boyolali)
Kopeng (dari Salatiga)
Wekas (dari Magelang)
Puncak: puncak Syarif 3.119 mdpl, Puncak Kenteng Songo/Tianggulasi 3.142 mdpl
Puncak lain: Watugubuk, Watutulis, Gegersapi, Ondorante
Kawah: Candradimuko, kombang, rebab, Kendang, Sambernyowo
View gunung lain dari puncak: Gn. Merapi, Sumbing, Sindoro, Telomoyo, Ungaran, Lawu

Mitos: Kerajan Jawa sangat besar terkubur di dalam Gunung Merapi dan gunung Merbabu yang berkaitan dengan kerajaan Mataram Kuno
Kismis (kisah misteri): Di gunung Merbabu ada yang namanya Pasar Setan konon adalah tempat jual-beli-nya makhluk halus




TRANSPORTASI
Selo dari Semarang-Solo
1. Bus Jurusan Semarang-Solo turun di kota boyolali.
2. Bus kecil dari Pasar Sapi Boyolali ke Cepogo/Selo.
3. Bus kecil dari Pasar Cepogo ke Selo.

Selo lewat Magelang
1. Bus jur Yogya – Semarang turun di Blabak (sebelum kota Magelang)
2. Angkot ke desa Sawangan disambung mobil bak sayuran ke jurusan Klakah, sambung lagi mobil sayuran ke Selo. Ada juga bus kecil jurusan magelang ke boyolali turun di Selo.
( Tidak disarankan lewat Magelang bila hendak menggunakan kendaraan umum kecuali carter mobil )

Selo dari Yogya-Solo
1. Bus jurusan Yogya-Solo turun di kota Kartasura.
2. Bus jurusan Solo-Semarang turun di terminal Boyolali.
3. Bus Kecil dari Pasar Sapi Boyolali ke Cepogo/Selo
4. Bus kecil dari Pasar Cepogo ke Selo.

Catatannya Borii Wednesday, 12 October 2016
Gunung Semeru Mengajarkan Bahwa Naik Gunung Bukan Sekedar Untuk Gagah-Gagahan
oro oro ombo
Semenjak munculnya film 5 cm, gunung tertinggi ketiga di Indonesia ini semakin populer dan menjadi destinasi utama terlebih bagi para pendaki. Bukan hanya pendaki, banyak pula orang-orang yang tidak memiliki skill dan fisik yang memadai turut menyemarakkan kepopuleran Gunung Semeru ini. Bersamaan dengan fenomena inilah berita duka dan korban semakin banyak pula berjatuhan di Gunung-Gunung Indonesia, khususnya di Semeru. Mulai dari pendaki swiss yang hilang hingga korban terbaru asal Depok yang meninggal karena kondisi badan tidak sehat saat mendaki.
Ranukumbolo
Tidak hanya Gunung Semeru, semua gunung memiliki resiko yang sama. Sudah ada banyak pendaki yang harus meninggal karena melipir dari jalur resmi dan kemudian hilang, kondisi badan tak sehat yang memaksakan, hipotermia, atau juga cuaca buruk yang tak pernah disangka sebelumnya. Hal -hal tersebut akan sangat memudahkan malaikat pencabut nyawa dalam pekerjaanya. Satu hal lagi yang harus kamu tahu, sukses-tidaknya pendakian tidak ditentukan dari apakah si pendaki bisa berhasil mencapai puncak atau tidak. Lebih dari itu, gelar sukses baru sah disematkan jika si pendaki sampai rumahnya dengan selamat jiwa-raga tanpa meninggalkan hal buruk di Gunung seperti vandalisme ataupun sampah.
Perlu diingat, gunung yang memiliki puncak berketinggian 3.676 meter bukanlah sebuah taman bermain yang bisa kamu kunjungi tanpa persiapan yang matang. Aktivitas mendaki gunung akhir-akhir ini memang sedang hits di kalangan para traveler, namun semua itu tidak dibarengi dengan persiapan dan perhatian yang matang. Usahakan melakukan pendakian melalui jalur yang resmi dan tidak menjadi pendaki ilegal, sehingga tidak menyulitkan tim SAR atau pengelola jika terjadi kecelakaan terhadap rombonganmu, karena secara otomatis para pengelola tidak akan bertanggung jawab sama sekali dengan hidupmu di Gunung selama berhari-hari!
Untuk mendaki sebuah gunung kamu harus mempersiapkan dengan baik fisik, mental, skill, logistik, equipment, pemandu, izin orangtua dan masih banyak lagi. Terlebih untuk mendaki gunung tertinggi di Pulau Jawa ini.  Jangan hanya karena gengsi, kamu menyepelekan persipanmu yang belum matang. Mendaki gunung bukanlah sekedar gaya-gayaan untuk menaklukkan sebuah puncak, bukan juga untuk mencari spot terbaik untuk berfoto dengan latar keindahan puncak. Lebih dari itu, mendaki gunung lebih kepada seberapa kuat kamu melawan diri sendiri terhadap ego yang lebih tinggi dari pada sebuah puncak gunung. Gunung bisa saja menjadi musuhmu ketika kamu sedang lengah.
Coba tanya hatimu dulu, sejatinya kamu pergi mendaki untuk apa? Kalau tujuanmu mulia, tentu semesta akan memudahkan perjalananmu. Maka, akan amat keliru jika kalian berpikir untuk sampai ke puncak gunung hanya untuk pamer keindahan atau unjuk kegagahan diri. Begitu banyak hal yang harus kamu pertimbangkan dan persiapkan sebelum berangkat mendaki. Karena ini bukan hanya tentang ke-egoisan dirimu sendiri.
Semoga segala peristiwa cukup bisa menjadi sebuah teguran daan pelajaran tersendiri. Semoga tidak ada lagi korban dan kabut duka menyelimuti Gunung Semeru dan gunung-gunung lainnya. Karena sejatinya, gunung diciptakan untuk membuat kita merunduk dan merendahkan hati.

Catatannya Borii
Hidup itu pilihan dan kita harus berani memilih
Seekor belalang telah lama terkurung dalam sebuah kotak. Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya tersebut. Dengan gembira ia melompat-lompat menikmati kebebasannya. Di perjalanan ia bertemu dengan seekor belalang lain. Namun ia keheranan kenapa belalang itu bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya.


Dengan penasaran ia menghampiri belalang itu, dan bertanya, “Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh, padahal kita tidak jauh berbeda dari usia ataupun bentuk tubuh?”
Belalang itupun menjawabnya, “Dimanakah kau selama ini tinggal? Karena semua belalang yang hidup dialam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan”.Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang selama ini membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.

Kadang-kadang kita sebagai manusia tanpa sadar pernah juga mengalami hal yang sama dengan belalang. Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan yang beruntun, perkataan teman, atau pendapat tetangga, seolah membuat kita terkurung dalam kotak semu yang membatasi semua kelebihan kita. 

Lebih sering kita mempercayai mentah-mentah apapun yang mereka voniskan kepada kita tanpa pernah berpikir benarkah kamu separah itu? Bahkan lebih buruk lagi, kita lebih memilih untuk mempercayai mereka daripada mempercayai diri sendiri.

Tidakkah kamu pernah mempertanyakan kepada hati nurani bahwa kamu bisa “melompat lebih tinggi dan lebih jauh” kalau kamu mau menyingkirkan “kotak” itu? 

Tidakkah kamu ingin membebaskan diri agar kamu bisa mencapai sesuatu yang selama ini kamu anggap diluar batas kemampuan kamu?

Beruntung sebagai manusia kita dibekali Tuhan kemampuan untuk berjuang, tidak hanya menyerah begitu saja pada apa yang kita alami. Karena itu teman, teruslah berusaha mencapai apapun yang kamu ingin capai. Sakit memang, lelah memang, tetapi bila kamu sudah sampai kepuncak, semua pengorbanan itu pasti terbayar.

Kehidupan kamu akan lebih baik kalau hidup dengan cara hidup pilihan kamu. Bukan cara hidup yang seperti mereka pilihkan untuk kamu…

Catatannya Borii Monday, 10 October 2016
Penyesalan ohh Penyesalan
Halo apa kabar? Semoga sehat selalu ya... 
Kali ini gw mau ngebahas tentang penyesalan selalu datang terlambat , 

Okay tentunya kalian semua sangat sering mendengarnya. Yah.. kalau datang di awal itu namanya baru “kesadaran”. 


Karena, penyesalan itu adalah bentuk respon negatif dari 'hasil akhir' dari segala perilaku kita yang tidak baik di masa lalu. Dengan kata ini banyak orang menganggap “dengan penyesalan tidak ada yang bisa diperbaiki, semuanya sudah hancur” dan lain hal lagi. Berbeda dengan kesadaran, kesadaran pasti dapat memacu kita untuk menjadi lebih baik. Dimana masih banyak kesempatan lainnya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. [ingat.. kesadaran itu adalah kondisi kita mengetahui kesalahan kita di masa lalu dan tidak boleh kita ulangi di masa depan, dan kita harus merubah kesalahan itu menjadi kebaikan]

Karena harus kalian ketahui, dibalik sesuatu yang terkadang kalian anggap “penyesalan” terkadang hal itu bukanlah penyesalan sesungguhnya, ketika kita sadari ada kesempatan di masa depan untuk “merubahnya” menjadi lebih baik.

Jadi, sadarilah suatu kesalahan yang pernah ada, sebelum kesadaran itu berubah menjadi sebuah penyesalan.

Sadar bahwa penyesalan akan datang belakangan, maka ciptakan rasa penyesalan ditersebut di awal suatu pelaksanaan.

“Penyesalan Itu Selama Akan Datang Di Belakang, Tapi Percayalah Bahwa Ada Allah Yang Akan Membuat Penyesalan Itu Menjadi Indah, Selama Secepatnya Kita Ingat Kepada-NYA Dan Menghadirkan DIA Dalam Hidup Kita“.

Catatannya Borii Wednesday, 5 October 2016
Mitos Sendang Drajat di Gunung Lawu
Sendang Drajat. Nah di sinilah check point pertama bagi para pendaki. Banyak pendaki bermalam di sini. Kebanyakan dari mereka ada yang tidak membawa tenda namun bermalam di rumah yang didirikan warga. Di sini pula ada sumber air bernama “Sendang Drajat”. Di tempat itu pula konon sebagai tempat ritual raja. Dibangun pula tempat pemujaan di samping Sendang Drajat tersebut. Sendang Drajat berada di Pos 5.

Lokasi Sendang Drajat di Gunung Lawu

Saya tak akan menceritakan detail perjalanan saya di Gunung Lawu. Saya hanya akan menceritakan tentang fenomena yang kami Lihat di Sendang Drajat, suatu tempat di gunung Lawu.



Sendang Drajat dipercaya masyarakat sekitar dan orang-orang tertentu sebagai tempat keramat. Hal ini berhubungan dengan Prabu Brawijaya.

Mungkin yang dimaksud disini adalah Brawijaya V (keturunan Raden Wijaya yang memerintah Majapahit )atau Prabu Bhre Kertabumi (1468 – 1478) Menurut artikel yang barusan saya baca ini airnya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Menurut kabar angin yang saya dengar di sekitar dan di atas Gunung Lawu konon bila orang yang datang ke Gunung Lawu mendapati air Sendang Drajat dalam keadaan penuh atau melimpah maka Rejekinya untuk setahun ke depan akan melimpah.

Dan bila orang yang ke Gunung Lawu mendapati air sendang sedang kering atau asat maka rejekinya untuk setahun ke depan akan kering dan asat pula. Percaya atau tidak itu terserah Anda.

Sebagai pendaki seperti biasa kami memanfaatkan sumber air untuk keperluan makan-minum termasuk untuk mencuci bahan makanan. Beruntung sekali waktu itu air sendang drajat sedang melimpah ruah hingga hamper memenuhi kolam kecil itu.

Saya yang waktu itu mencelupkan wadah berisi sayuran ke dalam sendang ditegur oleh salah seorang peziarah.

Di dekat sendang terdapat beberapa bilik setinggi dada orang dewasa yang terbuat dari bata bersemen. Bilik tak beratap itu awalnya saya kira ditujukan sebagai tempat “pipis” bagi pendaki makanya saya pipis di dalem situ hihihi.

Berikutnya saya melihat beberapa orang mengambil air sendang dengan gayung lalu dimasukkan ke dalam ember yang entah mereka bawa dari bawah atau pinjam di warung di dekat sendang.

Ada juga yang memanfaatkan botol air mineral kosong untuk menampung air sendang. Kemudian air sendang itu mereka bawa ke dalam bilik-bilik yang saya kira sebagai tempat pipis tadi.

Yang mengejutkan saya orang-orang itu mandi alias mengguyurkan air dingin sendang itu ke tubuh mereka. Jujur saya sempat terperangah melihatnya karena Gunung Lawu adalah salah satu gunung paling dingin yang pernah saya daki. Jujur lawu lebih dingin daripada Semeru, gunung tertinggi di Jawa. Orang-orang ini mandi malam hari di lembah gunung terdingin di ketinggian 3000 mdpl.

Eksotis kali ya mandi dibawah sinar bulan seperti itu? Tapi trimakasih saya tidak berminat. Masih beberapa orang yang mandi air sendang di pagi hari ketika hawa dingin lebih menusuk daripada di awal malam

Saya juga melihat beberapa orang memasukkan air sendang ke dalam botol-botol air mineral dan membawanya turun gunung. Hampir semua yang mandi air sendang membawa air sendang turun.

Bukan Cuma laki-laki dewasa tapi juga perempuan dan anak-anak yang melakukan ritual mandi air sendang itu. Bila dilihat dari penampilannya orang-orang itu sama sekali tidak terlihat jorok sampai-sampai harus mandi malam diatas gunung.

Mereka justru terlihat bersih dan necis layaknya orang kota yang kaya. Dan memang dari pakaian bagus dan mahal yang mereka kenakan mereka terlihat berkecukupan. Pakaian yang saat itu jelas tak mungkin kami beli.

Jadi? untuk apa mereka melakukan itu? Menyengsarakan diri naik gunung sampai ketinggian 3000 mdpl lalu mandi dan membawa turun airnya? Saat itu saya tak berani bertanya kepada mereka.

Demikianlah cerita mitos tentang sendang drajat.
Jangan lupa di baca juga Artikel Perjalanan ke Gunung Lawu

Catatannya Borii
Pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu

Gunung Lawu adalah gunung yang terletak di perbatasan provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, tepatnya di daerah Tawangmangu dan Cemorosewu. Gunung Lawu adalah gunung api yang mati atau istirahat. Tercatat gunung ini pernah meletus pada tahun 1885. Gunung Lawu banyak diminati oleh para pendaki karena pemandangan yang eksotis dan juga banyak memiliki spot-spot bagus seperti sumber air, kawah, sabana, bukit, kabut, dan satu yang paling menarik yakni adanya rumah warga alias pemukiman warga di puncaknya. Dan pemukiman tersebut diklaim sebagai pemukiman tertinggi di Jawa.

Selain karena keindahannya, Gunung lawu banyak di singgahi oleh para peziarah yang ingin berjiarah ke petilasan Prabu Bhrawijaya, dan jangan heran jika kalian ingin mendaki kesana banyak dupa ataupun tempat untuk berdoa.

Gunung Lawu memiliki tiga puncak yakni puncak Hargo Dalem, Hargo Dumiling dan Hargo Dumilah. Puncak Hargo Dumilah yang tertinggi yakni pada ketinggian 3.265 mdpl. Diketiga puncak ini menyimpan misteri dan menjadi tempat di mitoskan sebagai tempat sakral di Tanah Jawa. Harga Dalem diyakini sebagai tempat pamoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas, Harga Dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon, dan Harga Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi.

Konon gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa dan berhubungan erat dengan tradisi dan budaya Praja Mangkunegaran.

Setiap orang yang hendak pergi ke puncaknya harus memahami berbagai larangan tidak tertulis untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan. Bila pantangan itu dilanggar si pelaku diyakini bakal bernasib naas.

Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat yakni: Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Kepanasan/Cakrasurya, dan Pringgodani. Sehingga gunung lawu di identikan dengan gunung yang penuh misteri dan angker. jadi pesan Mbah jaga sikap dan perkataan, jika ingin mendaki kesana ya dan saling mengingatkan bagi teman seperjalanan


Pendakian

Sebelum memulai pendakian sebaiknya kita mesti mengetahui informasi medan untuk pendakian sehingga kita bisa mengatur strategi perjalanan agar kita bisa nyaman, aman dan tetap solid dengan kelompok. 

nihhh saya kasih peta jalur pendakian gunung lawu nya


BaseCamp via Jalur Cemoro Sewu



Persiapan terakhir sebelum berangkat adalah cek perlengkapan mendaki dan cek juga kondisi kesehatan.saya ingatkan kembali sebelum memulai pendakian sebaiknnya lakuakn doa dengan kelompoknya untuk diberikan kesalamatan selama pendakian, selalu jaga kekompakan tim.

Basecamp - Pos 1 Wes-Wesan 2163 mdpl (1 - 1,5 jam)
Perjalanan menu pos 1 tidak lah begitu menanjak, perjalanan masih enak dan masih santai dengan jalan yang sudah rapi karena sudah di tata dengan batu - batu. di perjalanan ini kita melewati pohon - pohon cemara yang rindang kadang ditemenin sama suara - suara burung yang merdu. di perjalanan menuju pos 1 ini kita akan menjumpai beberapa pos salah satunya milik perhutani dan pos Sendang Panguripan disinilah terdapat mata air. setalah melewati pos Sendang Panguripan  sekitar 30 menit lagi akan sampai Pos 1. Di Pos 1 ini terdapat warung jadi bisa istirahat sambil ngemil - ngemil makan gorengan atau teh anget, tapi terkadang warung tersebut tutup.

Pos 1 - Pos 2 Watu Gedeg (2 - 2,5 jam)
Dari pos 1 ke pos 2 ini trek yang akan kita lalui akan mulai terjal dengan trek tangga berbatu yang sudah di tata rapih dan merupakan trek terpanjang dari semua trek yang ada jadi siapkan mental dan fisik dari pos 1 yah.  Namun jika ingin sedikit cepat bisa memotong jalur tapi jalan nya agak curam sekali, sudah ada jalurnya ko tinggal ngikutin aja. Pada jalur ini kita akan bertemu batu besar yang bernama “Watu Jago”...Tapi awas ya jangan suka di coret - coret batu nya. di perjalanan menuju pos 2 ini kita bisa melihat hasil sisa kebakaran tahun 2015 kemarin, seprti hutan mati dengan batu - batu besar. Tapi di situlah keindahan nya, benar - benar pemandangan yang langka dari gunung - gunung lainnya.


Pos 2 - Pos 3 Watu Gede (1 jam - 1,5 jam)
Dari pos 2 ke Pos 3 perjalanan masih sama seperti trek sebelumnya, berbatuan dan masih menanjak, jika sampai sini sudah sore maka biasanya kabut mulai menyelimuti trek ini, hati - hati karena jalan sudah rada terjal dan menanjak.

Pos 3 - Pos 4 (1,5 jam - 2 jam) 
Trek pada jalur ini sudah sangat curam dan menanjak sekali, jalan nya zigzag menanjak tetapi jangan khawatir sudah ada pegangan tangan naamun sudah banyak yang rusak. di trek ini pula pohon - pohon sudah banyak dan rapat. Di pertengahan pada jalur ini saya sarankan nih jangan lupa foto -  foto nya buat yang suka narsis, tapi fotonya jangan yang mainstream, karena kalo cuaca lagi bagus pemandangan nya sangat bagus ko. Selain itu di Pos 4 juga rekomended buat bernasis ria, kita dapat langsung melihat kota dan telaga dari sudut ini. di Pos 4 ini bisa mendirikan tenda tapi hanya muat 1 - 2 tenda saja, tapi saya sarankan sih mending di Pos 5 aja sekalian karena jaraknya yang tidak jauh sekitar 30 menit, kita juga bisa menginap di warung.



Pos 4 - Pos 5  Jolotundo (30 menit)
Setelah berfoto - foto narsis dan melihat pemandangan di sekitar pos 4, perjalanan selanjutnya lebih mudah, hanya 30 menit perjalanan ke pos 5. Di pos 5 kita  bisa mendirikan tenda atau pun numpang menginap di warung, kalo ga mau ribet buka tenda saya saranin sih mending numpang menginap di warung aja, kita bisa pesan makanan dan teh hangat. Pos 5 terdapat 3 warung makan yang bisa menampung kurang lebih 20 orang per warung. jika pun mau membuka tenda bisa menampung sekitaran 10 tenda atau lebih.  Di warung tersebut ada nasi pecel,  mie rebus dan gorengan harganya pun relatif murah ko, jadi ga bawa bekal pun sudah aman lah.

jika belum terlalu gelap kita bisa melanjutkan perjalanan ke warung Mbok Yem, warung legendaris di Gunung Lawu. Warung Mbok yem persis di bawah puncak lawu. dari pos 5 ke warung Mbok Yem kurang lebih sekitar 30 menit. Sebelum sampai ke warung Mbok Yem kita akan melewati sendang drajat yaitu sebuah  mata air seperti sumur.

Pos 5 - Sendang Drajat (15 menit)
Jika tidak terlalu malam setelah Pos 5 kita bisa melanjutkan perjalanan ke Sendang Drajat yaitu sebuah sumber mata air seperti sumur, di Sendang Drajat ini pula terdapat sebuah pemujaan yang dulu dipakai untuk ritual Raja dan sampai saat ini masih dipakai untuk sebuah ritual - ritual. Di Sendang Drajat terdapat warung juga kita pun bisa menginap di warung tersebut atau jika masih ingin melanjutkan perjalanan untuk lebih dekat ke arah puncak kita bisa menginap di Warung Mbok Yem yang jaraknya 15 menit perjalanan dari Sendang drajat.



Sendang Drajat - Puncak Hargo Dumilah (30 - 45 menit)
Banyak pilihan untuk menginap dan membuka tenda, selain menginap di Pos 5, Sendang Drajat atau Mbok Yem. itu tergantung dari kondisi di lapangan dan cuaca, apalagi kalo hari libur panjang dipastikan banyak pendaki yang menginap di warung, kita harus pintar - pintar atur strategi, lebih dekat ke puncak lebih bagus dikarenakan akan menghemat waktu dan tenaga untuk keesokan harinya. 

Setalah melanjutkan perjalanan dari Sendang Drajat kita akan berjalan sekitar 15 menit menuju Warung Legendaris Mbok Yem warung tertinggi di pulau jawa, disini pemberhentian terakhir untuk menuju Puncak jika membawa barang banyak kita bisa  menaruh atau mentipkan barang - barang bawaan di warung ini, Mbok Yem nya baik ko. Dari warung  Mbok Yem  kita dilanjutkan perjalanan menuju puncak, dan langsung menanjak perjalanan nya, sekitar 30 menit waktu yang ditempuh. lalu setelah itu Taraaaaa........., harga yang didapat sebanding dengan usaha yang ditempuh dalam perjalanan. Pemandangan dari atas sini sangat bagus dan indah pokoknya terbayar semua capek dan pegel nya tapi kalo lagi kabut sihh percuma yah yang ada cuma putih semua hahahaha,,,,

Untuk menuju Hargo Dalem sangat deket ko dari warung Mbok Yem sekitar 100 meter dari warung, jadi kita bisa kesana setelah dari puncak.

Warung Mbok Yem

Puncak Gunung Lawu (Hargo Dumilah)

Melipir kekiri dari Puncak Hargo Dumilah

Berikut cerita pendakian dari berangkat sampai terakhir bisa dilihat di bawah video ini:



Sekiranya segitu saja yang bisa saya ceritakan dari trip ini, Sampai ketemu lagi di cerita petualanganku yang lain.....!!!

Jangan lupa juga baca artikel mendaki Gunung Slamet via Bambangan


Catatannya Borii Monday, 3 October 2016
Lupakan Mie Instan Dengan Hidangan Spesial
Mie instan merupakan menu yang sering menjadi pilihan ketika melakukan pendakian di gunung. Alasannya karena mie instan mudah disajikan dan tidak membutuhkan banyak ruang ketika disimpan dalam keril. Seperti yang telah kita ketahui bahwa mie instan tidak baik untuk kesehatan, apalagi untuk bekal pendakian. Mie instan hanya memberikan sedikit energy. Sedangkan zat kimia yang terkandung didalamnya dapat menurunkan metabolisme tubuh kita. Jangan sampai nyerah di tengah jalan sebelum bisa sampai puncak!



1. Nasi
Kandungan karbohidrat dan kalori yang terdapat pada nasi merupakan sumber energi utama untuk menjaga stamina tubuh. Nggak heran banyak pendaki yang lebih memilih memasak nasi daripada mie instant. Tapi nggak perlu juga sampai harus bawa sekarung beras. Bawalah beras secukupnya dan disesuaikan dengan kebutuhan kita. Mau berapa kali masak dan berapa jumlah anggota.

Memasak nasi itu hal yang gampang-gampang susah. Perbandingan antara beras dan air harus pas. Salah perhitungan, nasi bisa menjadi bubur. Kalau sudah jadi bubur tinggal nambahin suwir ayam, kuah kari, dan kerupuk. Jadi bubur ayam deh. Ide bagus tuh jualan bubur ayam digunung.

OK, back to topic!

Perbandingan memasak nasi yang baik adalah 2:1 (2 gelas air aqua kecil dan 1 gelas beras aqua kecil). Membutuhkan waktu 7 – 12 menit untuk memasaknya.

2. Sayur Sup
Sayur sup merupakan menu makanan paling simpel no.2 setelah mie instan. Kandungan vitamin dalam sayurannya sangat baik bagi tubuh. Bahannya pun mudah didapatkan dimana-mana. Kita hanya perlu menyiapkan beberapa sayuran dan bumbu masak. Kupas dan potong-potong sayuran sesuka hati, masukkan kedalam panci yang berisi air mendidih, dan tambahkan bumbunya. Lebih nikmat dimakan bareng si tempe goreng anget.

3. Tumis Brokoli
Kandungan omega 3 didalam brokoli sangat baik untuk meningkatkan kecerdasan kita lho. Kalau nggak suka dengan sayuran ijo kribo yang satu ini, bisa kok diganti dengan sayuran yang lain. Misalnya, kangkung, pakcoi, wortel, kembang kol, pokoknya sayuran apa aja yang bisa ditumis. Asal jangan mantan yang dijadikan tumisan. Ups, mantan kan bukan sejenis sayur mayur. Tapi sejenis kenangan yang harus dilupakan.

Masak tumis brokoli itu sangat mudah. Siapkan wajan dengan sedikit minyak. Tumis bawang merah, bawang putih, dan bawang bombai sampai wanginya menyebar ditenda sebelah, lalu memasukkan brokoli atau sayuran yang lainnya. Lebih mantap lagi kalau ditambahkan bakso. Supaya enak, masukkan garam dan merica secukupnya.



4. Steak!
Anak kos yang baca menu ini jangan bingung dulu. Gimana bisa makan steak di gunung, wong setiap hari makannya mie instan? Justru itu, bolehlah sekali-kali makan steak. Karena makan steak di warung sudah mainstream, coba deh makan steak digunung.

Caranya gampang, beli steak di warung terdekat. Jangan lupa, steaknya dibungkus menggunakan aluminium foil. Setelah sampai di gunung, tinggal dihangatkan. Karena bisa cepat basi, menu yang ini hanya cocok dimasak di hari pertama pendakian.

5. Nasi Goreng
Nasi adalah sumber karbohidrat yang baik bagi tubuh kita. Biasakan untuk makan nasi ketika mendaki, agar tidak mudah lelah dan lapar lagi. Banyak variasi menu dari nasi, salah satunya adalah nasi goreng. Bahan yang dibutuhkan nggak ribet, hanya nasi, bumbu nasi goreng, sosis ataupun telur. Nasi bisa dimasak dahulu digunung atau beli nasi putih sebelum mendaki. Belilah nasi secukupnya jangan beserta magicom-nya.


6. Sandwich
Roti menjadi pilihan bekal yang tidak pernah dilewatkan oleh para pendaki. Selain praktis, roti lebih memberikan banyak energy, karbohidrat, kalsium, protein, fosfor dan zat besi dibandingkan nasi putih. Bosan dengan roti yang begitu-begitu saja? Coba bikin sandwich! Kita cuma butuh 2 lembar roti tawar, keju, mayonnaise, saus. Tambahkan telor dadar sebagai sumber protein.



7. Ayam Goreng
Menu yang ini memang sedikit ribet dibandingkan yang lain. Tapi bukan berarti kita tidak bisa memasaknya di gunung kan? Caranya, siapkan ayam yang sudah diungkep dan dibumbui. Goreng setengah matang. Lalu bungkus menggunakan aluminium foil atau plastik dan masukkan kedalam box makanan. Ketika sudah sampai di gunung, tinggal di goreng. Jangan lupa membawa sambal kemasan sebagai teman makan.

Catatannya Borii
kesalahan Sepele yang Sering Dilakukan Pendaki Pemula
Minimnya pengetahuan tentang pendakian kerap menimbulkan salah kaprah. Sadar atau tidak, mungkin Anda juga sudah pernah mengalami hal ini:


1. Teknik Packing yang Salah

Pendaki pemula biasanya salah memahami teknik packing yang benar. Umumnya, mereka meletakkan barang terberat di ransel paling bawah. Lalu diikuti benda-benda yang lebih ringan lain. Kesalahan inilah yang kerap membuat pendaki pemula mudah lelah. Prinsip dasar pengemasan ransel yang benar adalah letakkan barang-barang yang ringan di dasar ransel. Seperti sleeping bag, sendal dan pakaian sebaiknya disusun di bagian bawah. Logistik bahan makanan disusun setelahnya. Perlengkapan penting dan barang-barang berat seperti tenda, jas hujan, kotak p3k, alat masak diletakan bagian kepala ransel.



2. Memilih Mie Instan Sebagai Makanan Utama Saat Pendakian Karena Praktis

Mie instan memang makanan yang sangat praktis dan selalu menjadi idola pendaki saat lapar. Tidak membutuhkan waktu lama, mie instan bisa memenuhi kebutuhan perut yang lapar. Namun, kandungan bahan pengawet dan bahan kimia dalam mie instan dapat menurunkan metabolisme tubuh. Padahal mendaki membutuhkan banyak energi. Gantilah mie instant dengan makanan lain, misalnya nasi atau roti.




3. Menentukan Posisi Tenda

Kesalahkaprahan juga seringkali terjadi saat menentukan posisi tenda. Pendaki pemula umumnya kurang memperhatikan letak tenda. Asal tanah lapang, bisa dijadikan tempat untuk mendirikan tenda. Padahal  untuk menentukan posisi tenda yang baik, Anda juga harus memperhatikan arah mata angin. Amati kemana arah angin berhembus. Jika sudah menemukannya, tempatkan posisi pintu tenda membelakangi arah angin. Hal yang paling penting, jangan mendirikan tenda di jalur pendakian. Akan mengganggu kenyamanan pendaki lainnya.



4. Mendaki dalam Jumlah Banyak Lebih Aman

Kebanyakan orang berpikir, mendaki dalam jumlah banyak bisa mengurangi resiko kecelakaan selama di gunung. Dengan asumsi banyak orang yang siap membantu, mereka merasa lebih tenang dan aman saat mendaki.

Rombongan besar justru akan merepotkan. Makin sulit membagi logistik dan mengatur manajemen perjalanan. Masalah yang sering muncul adalah banyaknya konflik. Keinginan anggota yang beraneka ragam dan sikap intoleransi.

Idealnya, dalam satu rombongan pendakian, beranggotakan 4 sampai 6 orang pendaki saja. Pilih satu orang untuk memimpin pendakian yang paling bisa diandalkan dan memiliki jiwa leadership tinggi.

5. Kesalahan paling fatal ketika Hipotermia dianggap kesurupan

Kesalahpahamanan yang sering dialami pendaki pemula adalah ketika penderita hipotermia dianggap sedang kesurupan. Perbedaan gejala antara hipotermia dan kesurupan memang terlihat samar. Berbicara melantur, menggigil hebat, kulit terlihat keabu-abuan, detak jantung melemah, tekanan darah menurun, dan terjadi kontraksi otot untuk sebagai usaha untuk bernapas.

Kemunculan gejala-gejala hipotermia tersebut kerap dianggap kesurupan. Penderita hipotermia akan meninggal jika tidak segera memperoleh penanganan yang benar. Pembekalan diri dengan pengetahuan tentang gejala dan penanganan penyakit di gunung sebaiknya menjadi perhatian yang serius.

Memberikan minuman hangat seperti teh, atau coklat bisa membantu menghangatkan tubuh penderita. Tapi, jangan memberikan kopi kepada penderita hipotermia. Sifat diuretik pada kopi, memungkinkan ginjal untuk mengeksresikan urin lebih banyak dan menghilangkan cairan pada tubuh sehingga korban justru berpotensi dehidrasi.

6. Minum air sebanyak-banyaknya

Berjalan kaki sambil menggendong ransel di punggung memang melelahkan. Apalagi jika cuaca pendakian panas menyengat. Keringat akan mengalir deras. Tenggorokan terasa kering mencekat. Minum air putih tentu sangat melegakan.

Namun, banyak pendaki yang salah kaprah saat minum air putih. Para pendaki menenggak air sebanyak-banyaknya untuk menggantikan energi yang hilang. Aturan yang benar, sebaiknya minum 2-3 teguk air.Ini berfungsi untuk membasahi tenggorokan yang kering dan mengusir dahaga. Selain itu, cara tersebut juga bisa membantu pendaki untuk mengelola persediaan air minum.

7. Memakai Jaket Saat Mendaki

Hal ini umum dilakukan pendaki. Apalagi jika mendaki saat malam hari. Udara dingin yang menusuk tidak bisa bersahabat dengan tubuh. Tak jarang banyak pendaki yang memilih menggunakan jaket saat mendaki.

Padahal, ketika Anda berjalan menggunakan jaket, suhu dalam tubuh akan semakin meningkat. Bukan lagi menghangatkan, anda akan kepanasan.

Tidak perlu memakai jaket, tapi cukup menggunakan kaos biasa. Tubuh akan otomatis mengeluarkan panas jika anda terus bergerak. Bergerak menggunakan jaket juga  bisa menyebabkan anda susah bernapas. Jaket cukup digunakan saat berada dalam tenda saja.

Catatannya Borii