Results for "Jalan jalan"
Pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu

Gunung Lawu adalah gunung yang terletak di perbatasan provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, tepatnya di daerah Tawangmangu dan Cemorosewu. Gunung Lawu adalah gunung api yang mati atau istirahat. Tercatat gunung ini pernah meletus pada tahun 1885. Gunung Lawu banyak diminati oleh para pendaki karena pemandangan yang eksotis dan juga banyak memiliki spot-spot bagus seperti sumber air, kawah, sabana, bukit, kabut, dan satu yang paling menarik yakni adanya rumah warga alias pemukiman warga di puncaknya. Dan pemukiman tersebut diklaim sebagai pemukiman tertinggi di Jawa.

Selain karena keindahannya, Gunung lawu banyak di singgahi oleh para peziarah yang ingin berjiarah ke petilasan Prabu Bhrawijaya, dan jangan heran jika kalian ingin mendaki kesana banyak dupa ataupun tempat untuk berdoa.

Gunung Lawu memiliki tiga puncak yakni puncak Hargo Dalem, Hargo Dumiling dan Hargo Dumilah. Puncak Hargo Dumilah yang tertinggi yakni pada ketinggian 3.265 mdpl. Diketiga puncak ini menyimpan misteri dan menjadi tempat di mitoskan sebagai tempat sakral di Tanah Jawa. Harga Dalem diyakini sebagai tempat pamoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas, Harga Dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon, dan Harga Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi.

Konon gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa dan berhubungan erat dengan tradisi dan budaya Praja Mangkunegaran.

Setiap orang yang hendak pergi ke puncaknya harus memahami berbagai larangan tidak tertulis untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan. Bila pantangan itu dilanggar si pelaku diyakini bakal bernasib naas.

Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat yakni: Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Kepanasan/Cakrasurya, dan Pringgodani. Sehingga gunung lawu di identikan dengan gunung yang penuh misteri dan angker. jadi pesan Mbah jaga sikap dan perkataan, jika ingin mendaki kesana ya dan saling mengingatkan bagi teman seperjalanan


Pendakian

Sebelum memulai pendakian sebaiknya kita mesti mengetahui informasi medan untuk pendakian sehingga kita bisa mengatur strategi perjalanan agar kita bisa nyaman, aman dan tetap solid dengan kelompok. 

nihhh saya kasih peta jalur pendakian gunung lawu nya


BaseCamp via Jalur Cemoro Sewu



Persiapan terakhir sebelum berangkat adalah cek perlengkapan mendaki dan cek juga kondisi kesehatan.saya ingatkan kembali sebelum memulai pendakian sebaiknnya lakuakn doa dengan kelompoknya untuk diberikan kesalamatan selama pendakian, selalu jaga kekompakan tim.

Basecamp - Pos 1 Wes-Wesan 2163 mdpl (1 - 1,5 jam)
Perjalanan menu pos 1 tidak lah begitu menanjak, perjalanan masih enak dan masih santai dengan jalan yang sudah rapi karena sudah di tata dengan batu - batu. di perjalanan ini kita melewati pohon - pohon cemara yang rindang kadang ditemenin sama suara - suara burung yang merdu. di perjalanan menuju pos 1 ini kita akan menjumpai beberapa pos salah satunya milik perhutani dan pos Sendang Panguripan disinilah terdapat mata air. setalah melewati pos Sendang Panguripan  sekitar 30 menit lagi akan sampai Pos 1. Di Pos 1 ini terdapat warung jadi bisa istirahat sambil ngemil - ngemil makan gorengan atau teh anget, tapi terkadang warung tersebut tutup.

Pos 1 - Pos 2 Watu Gedeg (2 - 2,5 jam)
Dari pos 1 ke pos 2 ini trek yang akan kita lalui akan mulai terjal dengan trek tangga berbatu yang sudah di tata rapih dan merupakan trek terpanjang dari semua trek yang ada jadi siapkan mental dan fisik dari pos 1 yah.  Namun jika ingin sedikit cepat bisa memotong jalur tapi jalan nya agak curam sekali, sudah ada jalurnya ko tinggal ngikutin aja. Pada jalur ini kita akan bertemu batu besar yang bernama “Watu Jago”...Tapi awas ya jangan suka di coret - coret batu nya. di perjalanan menuju pos 2 ini kita bisa melihat hasil sisa kebakaran tahun 2015 kemarin, seprti hutan mati dengan batu - batu besar. Tapi di situlah keindahan nya, benar - benar pemandangan yang langka dari gunung - gunung lainnya.


Pos 2 - Pos 3 Watu Gede (1 jam - 1,5 jam)
Dari pos 2 ke Pos 3 perjalanan masih sama seperti trek sebelumnya, berbatuan dan masih menanjak, jika sampai sini sudah sore maka biasanya kabut mulai menyelimuti trek ini, hati - hati karena jalan sudah rada terjal dan menanjak.

Pos 3 - Pos 4 (1,5 jam - 2 jam) 
Trek pada jalur ini sudah sangat curam dan menanjak sekali, jalan nya zigzag menanjak tetapi jangan khawatir sudah ada pegangan tangan naamun sudah banyak yang rusak. di trek ini pula pohon - pohon sudah banyak dan rapat. Di pertengahan pada jalur ini saya sarankan nih jangan lupa foto -  foto nya buat yang suka narsis, tapi fotonya jangan yang mainstream, karena kalo cuaca lagi bagus pemandangan nya sangat bagus ko. Selain itu di Pos 4 juga rekomended buat bernasis ria, kita dapat langsung melihat kota dan telaga dari sudut ini. di Pos 4 ini bisa mendirikan tenda tapi hanya muat 1 - 2 tenda saja, tapi saya sarankan sih mending di Pos 5 aja sekalian karena jaraknya yang tidak jauh sekitar 30 menit, kita juga bisa menginap di warung.



Pos 4 - Pos 5  Jolotundo (30 menit)
Setelah berfoto - foto narsis dan melihat pemandangan di sekitar pos 4, perjalanan selanjutnya lebih mudah, hanya 30 menit perjalanan ke pos 5. Di pos 5 kita  bisa mendirikan tenda atau pun numpang menginap di warung, kalo ga mau ribet buka tenda saya saranin sih mending numpang menginap di warung aja, kita bisa pesan makanan dan teh hangat. Pos 5 terdapat 3 warung makan yang bisa menampung kurang lebih 20 orang per warung. jika pun mau membuka tenda bisa menampung sekitaran 10 tenda atau lebih.  Di warung tersebut ada nasi pecel,  mie rebus dan gorengan harganya pun relatif murah ko, jadi ga bawa bekal pun sudah aman lah.

jika belum terlalu gelap kita bisa melanjutkan perjalanan ke warung Mbok Yem, warung legendaris di Gunung Lawu. Warung Mbok yem persis di bawah puncak lawu. dari pos 5 ke warung Mbok Yem kurang lebih sekitar 30 menit. Sebelum sampai ke warung Mbok Yem kita akan melewati sendang drajat yaitu sebuah  mata air seperti sumur.

Pos 5 - Sendang Drajat (15 menit)
Jika tidak terlalu malam setelah Pos 5 kita bisa melanjutkan perjalanan ke Sendang Drajat yaitu sebuah sumber mata air seperti sumur, di Sendang Drajat ini pula terdapat sebuah pemujaan yang dulu dipakai untuk ritual Raja dan sampai saat ini masih dipakai untuk sebuah ritual - ritual. Di Sendang Drajat terdapat warung juga kita pun bisa menginap di warung tersebut atau jika masih ingin melanjutkan perjalanan untuk lebih dekat ke arah puncak kita bisa menginap di Warung Mbok Yem yang jaraknya 15 menit perjalanan dari Sendang drajat.



Sendang Drajat - Puncak Hargo Dumilah (30 - 45 menit)
Banyak pilihan untuk menginap dan membuka tenda, selain menginap di Pos 5, Sendang Drajat atau Mbok Yem. itu tergantung dari kondisi di lapangan dan cuaca, apalagi kalo hari libur panjang dipastikan banyak pendaki yang menginap di warung, kita harus pintar - pintar atur strategi, lebih dekat ke puncak lebih bagus dikarenakan akan menghemat waktu dan tenaga untuk keesokan harinya. 

Setalah melanjutkan perjalanan dari Sendang Drajat kita akan berjalan sekitar 15 menit menuju Warung Legendaris Mbok Yem warung tertinggi di pulau jawa, disini pemberhentian terakhir untuk menuju Puncak jika membawa barang banyak kita bisa  menaruh atau mentipkan barang - barang bawaan di warung ini, Mbok Yem nya baik ko. Dari warung  Mbok Yem  kita dilanjutkan perjalanan menuju puncak, dan langsung menanjak perjalanan nya, sekitar 30 menit waktu yang ditempuh. lalu setelah itu Taraaaaa........., harga yang didapat sebanding dengan usaha yang ditempuh dalam perjalanan. Pemandangan dari atas sini sangat bagus dan indah pokoknya terbayar semua capek dan pegel nya tapi kalo lagi kabut sihh percuma yah yang ada cuma putih semua hahahaha,,,,

Untuk menuju Hargo Dalem sangat deket ko dari warung Mbok Yem sekitar 100 meter dari warung, jadi kita bisa kesana setelah dari puncak.

Warung Mbok Yem

Puncak Gunung Lawu (Hargo Dumilah)

Melipir kekiri dari Puncak Hargo Dumilah

Berikut cerita pendakian dari berangkat sampai terakhir bisa dilihat di bawah video ini:



Sekiranya segitu saja yang bisa saya ceritakan dari trip ini, Sampai ketemu lagi di cerita petualanganku yang lain.....!!!

Jangan lupa juga baca artikel mendaki Gunung Slamet via Bambangan


Catatannya Borii Monday, 3 October 2016
Lupakan Mie Instan Dengan Hidangan Spesial
Mie instan merupakan menu yang sering menjadi pilihan ketika melakukan pendakian di gunung. Alasannya karena mie instan mudah disajikan dan tidak membutuhkan banyak ruang ketika disimpan dalam keril. Seperti yang telah kita ketahui bahwa mie instan tidak baik untuk kesehatan, apalagi untuk bekal pendakian. Mie instan hanya memberikan sedikit energy. Sedangkan zat kimia yang terkandung didalamnya dapat menurunkan metabolisme tubuh kita. Jangan sampai nyerah di tengah jalan sebelum bisa sampai puncak!



1. Nasi
Kandungan karbohidrat dan kalori yang terdapat pada nasi merupakan sumber energi utama untuk menjaga stamina tubuh. Nggak heran banyak pendaki yang lebih memilih memasak nasi daripada mie instant. Tapi nggak perlu juga sampai harus bawa sekarung beras. Bawalah beras secukupnya dan disesuaikan dengan kebutuhan kita. Mau berapa kali masak dan berapa jumlah anggota.

Memasak nasi itu hal yang gampang-gampang susah. Perbandingan antara beras dan air harus pas. Salah perhitungan, nasi bisa menjadi bubur. Kalau sudah jadi bubur tinggal nambahin suwir ayam, kuah kari, dan kerupuk. Jadi bubur ayam deh. Ide bagus tuh jualan bubur ayam digunung.

OK, back to topic!

Perbandingan memasak nasi yang baik adalah 2:1 (2 gelas air aqua kecil dan 1 gelas beras aqua kecil). Membutuhkan waktu 7 – 12 menit untuk memasaknya.

2. Sayur Sup
Sayur sup merupakan menu makanan paling simpel no.2 setelah mie instan. Kandungan vitamin dalam sayurannya sangat baik bagi tubuh. Bahannya pun mudah didapatkan dimana-mana. Kita hanya perlu menyiapkan beberapa sayuran dan bumbu masak. Kupas dan potong-potong sayuran sesuka hati, masukkan kedalam panci yang berisi air mendidih, dan tambahkan bumbunya. Lebih nikmat dimakan bareng si tempe goreng anget.

3. Tumis Brokoli
Kandungan omega 3 didalam brokoli sangat baik untuk meningkatkan kecerdasan kita lho. Kalau nggak suka dengan sayuran ijo kribo yang satu ini, bisa kok diganti dengan sayuran yang lain. Misalnya, kangkung, pakcoi, wortel, kembang kol, pokoknya sayuran apa aja yang bisa ditumis. Asal jangan mantan yang dijadikan tumisan. Ups, mantan kan bukan sejenis sayur mayur. Tapi sejenis kenangan yang harus dilupakan.

Masak tumis brokoli itu sangat mudah. Siapkan wajan dengan sedikit minyak. Tumis bawang merah, bawang putih, dan bawang bombai sampai wanginya menyebar ditenda sebelah, lalu memasukkan brokoli atau sayuran yang lainnya. Lebih mantap lagi kalau ditambahkan bakso. Supaya enak, masukkan garam dan merica secukupnya.



4. Steak!
Anak kos yang baca menu ini jangan bingung dulu. Gimana bisa makan steak di gunung, wong setiap hari makannya mie instan? Justru itu, bolehlah sekali-kali makan steak. Karena makan steak di warung sudah mainstream, coba deh makan steak digunung.

Caranya gampang, beli steak di warung terdekat. Jangan lupa, steaknya dibungkus menggunakan aluminium foil. Setelah sampai di gunung, tinggal dihangatkan. Karena bisa cepat basi, menu yang ini hanya cocok dimasak di hari pertama pendakian.

5. Nasi Goreng
Nasi adalah sumber karbohidrat yang baik bagi tubuh kita. Biasakan untuk makan nasi ketika mendaki, agar tidak mudah lelah dan lapar lagi. Banyak variasi menu dari nasi, salah satunya adalah nasi goreng. Bahan yang dibutuhkan nggak ribet, hanya nasi, bumbu nasi goreng, sosis ataupun telur. Nasi bisa dimasak dahulu digunung atau beli nasi putih sebelum mendaki. Belilah nasi secukupnya jangan beserta magicom-nya.


6. Sandwich
Roti menjadi pilihan bekal yang tidak pernah dilewatkan oleh para pendaki. Selain praktis, roti lebih memberikan banyak energy, karbohidrat, kalsium, protein, fosfor dan zat besi dibandingkan nasi putih. Bosan dengan roti yang begitu-begitu saja? Coba bikin sandwich! Kita cuma butuh 2 lembar roti tawar, keju, mayonnaise, saus. Tambahkan telor dadar sebagai sumber protein.



7. Ayam Goreng
Menu yang ini memang sedikit ribet dibandingkan yang lain. Tapi bukan berarti kita tidak bisa memasaknya di gunung kan? Caranya, siapkan ayam yang sudah diungkep dan dibumbui. Goreng setengah matang. Lalu bungkus menggunakan aluminium foil atau plastik dan masukkan kedalam box makanan. Ketika sudah sampai di gunung, tinggal di goreng. Jangan lupa membawa sambal kemasan sebagai teman makan.

Catatannya Borii
kesalahan Sepele yang Sering Dilakukan Pendaki Pemula
Minimnya pengetahuan tentang pendakian kerap menimbulkan salah kaprah. Sadar atau tidak, mungkin Anda juga sudah pernah mengalami hal ini:


1. Teknik Packing yang Salah

Pendaki pemula biasanya salah memahami teknik packing yang benar. Umumnya, mereka meletakkan barang terberat di ransel paling bawah. Lalu diikuti benda-benda yang lebih ringan lain. Kesalahan inilah yang kerap membuat pendaki pemula mudah lelah. Prinsip dasar pengemasan ransel yang benar adalah letakkan barang-barang yang ringan di dasar ransel. Seperti sleeping bag, sendal dan pakaian sebaiknya disusun di bagian bawah. Logistik bahan makanan disusun setelahnya. Perlengkapan penting dan barang-barang berat seperti tenda, jas hujan, kotak p3k, alat masak diletakan bagian kepala ransel.



2. Memilih Mie Instan Sebagai Makanan Utama Saat Pendakian Karena Praktis

Mie instan memang makanan yang sangat praktis dan selalu menjadi idola pendaki saat lapar. Tidak membutuhkan waktu lama, mie instan bisa memenuhi kebutuhan perut yang lapar. Namun, kandungan bahan pengawet dan bahan kimia dalam mie instan dapat menurunkan metabolisme tubuh. Padahal mendaki membutuhkan banyak energi. Gantilah mie instant dengan makanan lain, misalnya nasi atau roti.




3. Menentukan Posisi Tenda

Kesalahkaprahan juga seringkali terjadi saat menentukan posisi tenda. Pendaki pemula umumnya kurang memperhatikan letak tenda. Asal tanah lapang, bisa dijadikan tempat untuk mendirikan tenda. Padahal  untuk menentukan posisi tenda yang baik, Anda juga harus memperhatikan arah mata angin. Amati kemana arah angin berhembus. Jika sudah menemukannya, tempatkan posisi pintu tenda membelakangi arah angin. Hal yang paling penting, jangan mendirikan tenda di jalur pendakian. Akan mengganggu kenyamanan pendaki lainnya.



4. Mendaki dalam Jumlah Banyak Lebih Aman

Kebanyakan orang berpikir, mendaki dalam jumlah banyak bisa mengurangi resiko kecelakaan selama di gunung. Dengan asumsi banyak orang yang siap membantu, mereka merasa lebih tenang dan aman saat mendaki.

Rombongan besar justru akan merepotkan. Makin sulit membagi logistik dan mengatur manajemen perjalanan. Masalah yang sering muncul adalah banyaknya konflik. Keinginan anggota yang beraneka ragam dan sikap intoleransi.

Idealnya, dalam satu rombongan pendakian, beranggotakan 4 sampai 6 orang pendaki saja. Pilih satu orang untuk memimpin pendakian yang paling bisa diandalkan dan memiliki jiwa leadership tinggi.

5. Kesalahan paling fatal ketika Hipotermia dianggap kesurupan

Kesalahpahamanan yang sering dialami pendaki pemula adalah ketika penderita hipotermia dianggap sedang kesurupan. Perbedaan gejala antara hipotermia dan kesurupan memang terlihat samar. Berbicara melantur, menggigil hebat, kulit terlihat keabu-abuan, detak jantung melemah, tekanan darah menurun, dan terjadi kontraksi otot untuk sebagai usaha untuk bernapas.

Kemunculan gejala-gejala hipotermia tersebut kerap dianggap kesurupan. Penderita hipotermia akan meninggal jika tidak segera memperoleh penanganan yang benar. Pembekalan diri dengan pengetahuan tentang gejala dan penanganan penyakit di gunung sebaiknya menjadi perhatian yang serius.

Memberikan minuman hangat seperti teh, atau coklat bisa membantu menghangatkan tubuh penderita. Tapi, jangan memberikan kopi kepada penderita hipotermia. Sifat diuretik pada kopi, memungkinkan ginjal untuk mengeksresikan urin lebih banyak dan menghilangkan cairan pada tubuh sehingga korban justru berpotensi dehidrasi.

6. Minum air sebanyak-banyaknya

Berjalan kaki sambil menggendong ransel di punggung memang melelahkan. Apalagi jika cuaca pendakian panas menyengat. Keringat akan mengalir deras. Tenggorokan terasa kering mencekat. Minum air putih tentu sangat melegakan.

Namun, banyak pendaki yang salah kaprah saat minum air putih. Para pendaki menenggak air sebanyak-banyaknya untuk menggantikan energi yang hilang. Aturan yang benar, sebaiknya minum 2-3 teguk air.Ini berfungsi untuk membasahi tenggorokan yang kering dan mengusir dahaga. Selain itu, cara tersebut juga bisa membantu pendaki untuk mengelola persediaan air minum.

7. Memakai Jaket Saat Mendaki

Hal ini umum dilakukan pendaki. Apalagi jika mendaki saat malam hari. Udara dingin yang menusuk tidak bisa bersahabat dengan tubuh. Tak jarang banyak pendaki yang memilih menggunakan jaket saat mendaki.

Padahal, ketika Anda berjalan menggunakan jaket, suhu dalam tubuh akan semakin meningkat. Bukan lagi menghangatkan, anda akan kepanasan.

Tidak perlu memakai jaket, tapi cukup menggunakan kaos biasa. Tubuh akan otomatis mengeluarkan panas jika anda terus bergerak. Bergerak menggunakan jaket juga  bisa menyebabkan anda susah bernapas. Jaket cukup digunakan saat berada dalam tenda saja.

Catatannya Borii
Mendaki Gunung Slamet via Bambangan Purbalingga

Gunung Slamet ? Gunung Slamet adalah salah satu gunung berapi yang terdapat di Pulau Jawa. Gunung ini berada di perbatasan Kabupaten Brebes, Banyumas, Purbalingga, Tegal dan Pemalang, Jawa Tengah. Gunung Slamet memiliki ketinggian 3.428 mdpl dan merupakan gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru di Jawa Timur. 

Gunung Slamet dapat didaki melalui tiga jalur yang paling populer yakni jalur sebelah barat Jalur Kaliwadas, sebelah selatan Jalur Batu Raden dan sebelah timur Jalur Bambangan. Dari ketiga jalur tersebut yang paling terdekat adalah Jalur Bambangan, selain pemandangannya indah juga banyaknya kera liar yang dapat kita temui sepanjang perjalanan menuju puncak.








Jalur Pendakian via Bambangan


Jalur Bambangan adalah jalur pendakian yang paling populer dan merupakan jalur yang paling sering didaki. Jalur ini merupakan jalur terpendek dibandingkan dengan jalur Batu Raden dan Kali Wadas


Untuk akses transportasinya dari Kota Purwokerto naik bus jurusan Purbalingga dan dilanjutkan dengan bus tujuan Bobot Sari dan turun di Serayu. Dari sini perjalanan disambung menggunakan angkutan pedesaan menuju desa Bambangan yang merupakan desa terakhir di kaki Gunung Slamet.

Desa Bambangan ini berada di ketinggian 1.279 mdpl. Disini para pendaki bisa menyiapkan perlengkapan dan mengurus segala administrasi pendakian. 



Gapura Selamat Datang

Setelah beberapa menit dari basecame pendaki akan menemui sebuah Gapura selamat datang Bagi pendaki Gunung Slamet. dari sinilah perjalanan dimulai. Tak jauh dari gerbang itu pendaki harus berlok ke kanan dan mensyusuri ladang penduduk. Tak lama kemudian pendaki akan memasuki pintu hutan dengan tanaman mayoritas Pohon Pinus. Jarak menuju pos 1 (Pondok Gembirung) masih harus ditempuh sekitar 1,5 jam dari sini.


 

Pos 1 . pondok Gemirung berada di ketinggian 1935 mdpl


Trek dari pos 1 menuju Pos 2 (Pondok Walang) lumayan cukup menanjak. Tapi dengan rimbunnya pohon dan jarak yang tidak kurang dari 1 Kilometer, membuat jalur ini tidak terlalu sulit untuk dilalui. Lahan cukup datar di kanan dan kiri jalur pendakian untuk bisa mendirikian beberapa tenda. 


Pos 2. Pondok Walang di ketinggian 2271 mdpl

Dari Pos 2 jalanan kembali menyempit kanan-kiri  banyak semak-semak. Ketika hujan jalan di trek ini akan menjadi cukup licin. Pos III ini merupakan pos yang terluas, di pos ini bisa mendirikan 10 tenda. Pos yang berjarak sekitar 1,5km dari pos sebelumnya ini juga tidak tersedia sumber mata air. Waktu tempuh dari pos II dengan kecepatan normal sekitar 1.5 jam.

Pos 3 . Pondok Cemara di ketinggian 2497 mdpl

Trek masih didominasi vegetasi hutan di kanan kiri. Di Pos empat ini sangat jarang untuk camp. Tempat ini juga terkenal angker, Samaranthu artinya adalah hantu tidak terlihat. Pos Samarantu ini berada persis di samping kanan jalan setapak. pos ini berjarak sekitar 1,5km dari pos sebelumnya dengan waktu tempuh lebih kurang 1,5 hingga 2 jam. Pos tersebut tidak lebih merupakan pos bayangan yang telah disalah namakan. Pos Samarantu yang benar adalah yang ini.

Pos 4. Pondok Samaranthu berada diketinggian 2697 mdpl

Sekitar 15 menit dari Pos Samaranthu kita akan sampai di Pos 5 atau Sanghiang Rangkah. Di Pos 5 ini terdapat mata air bersih yang berupa sungai kecil. Untuk mengambil air kita dapat melewati jalan menurun di sisi kiri jalur. Di Pos 5 ini juga terdapat sebuah bangunan yang dapat kita gunakan untuk bermalam. Di depan pos ini juga ada area yang datar dan bisa kita gunakan untuk mendirikan tenda. Untuk sampai ke pos 5 dari basecamp diperlukan waktu sekitar 4-5 jam.

Pos 5. Samyang Rangkah berada diketinggian 2806 disini kita bisa mengambil air 
Sumber Mata Air

Dari Pos 5 menuju Pos 6 atau Sanghiang Jampang kita harus berjalan sekitar 30-45 menit. Jalur tidak lagi berupa hutan yang lebat berupa semak-semak yang asri dengan Edelweiss di sekelilingnya . Sampai di pos 6 kita terus berjalan sampai akhirnya tiba di Pos 7 atau Sanghiang Kendil dengan waktu berjalan sekitar 30 menit dari Pos 6. Di Pos 7 ini ada sebuah bangunan yang bisa kita gunakan untuk bermalam.

Pos 7.  Samyang Kendil  berada diketinggian 2990 mdpl

Dari Pos 7 menuju Plawangan kita akan melewati jalur yang lebih berat lagi. Di jalur ini kita keluar dari hutan dan menuju lahan terbuka. Plawangan merupakan pintu masuk menuju puncak Gunung Slamet. Dari tempat ini pendaki akan dapat menikmati panorama alam yang membentang luas di arah timur.

Perjalanan selanjutnya akan menjadi lebih berat, pendaki akan keluar dari hutan menuju batas vegetasi. Setelah berjalan sekitar 2 jam dari pos tujuh maka pendakia akan sampai ke bibir kawah. 


Selepas Plawangan lintasan semakin menarik sekaligus menantang, selain pasir dan bebatuan sedimentasi lahar yang mudah longsor pada sepanjang lintasan. Di kanan kiri terdapat jurang dan tidak ada satu pohon pun yang dapat digunakan sebagai pegangan. Di daerah ini sering terjadi badai gunung, oleh karena itu pendaki disarankan untuk mendaki sewaktu pagi hari. Kebanyakan pendaki meninggalkan barang-barang mereka di bawah untuk memperingan beban. Dari Plawangan sampai di puncak dibutuhkan waktu sekitar 30-60 menit. Dari sini pendaki dapat melihat puncak Slamet yang begitu besar dan hamparan kaldera yang sangat luas dan menakjubkan yang biasa disebut Segoro Wedi.


Menuju Puncak

Menuju Puncak Bibir Kawah

Di Puncak Gunung Slamet kita akan menemukan sebuah in memoriam yang bertuliskan Surono. Surono adalah seorang pendaki yang tewas di puncak karena terjatuh dari jurang. Untuk menghormati kematiannya maka namanya dijadikan sebagai nama puncak tertinggi Gunung Slamet sehingga pendaki sering menyebutnya Puncak Surono. 

Perkiraaan Waktu Perjalanan
Jika ditotal, waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke puncak Gunung Slamet adalah sekitar 8,5 jam. Berikut ini adalah estimasi waktu yang dibutuhkan dari satu pos ke pos lain
·         Base camp – Pos I Pondok Gembirung: 1 jam
·         Pos I – Pos II Pondok Walang: 1,5 jam
·         Pos II – Pos III Pondok Cemara: 1 jam
·         Pos III – Pos IV Pondok Samaranthu: 1 jam
·         Pos IV – Pos V Samyang Rangkah: 30 menit
·         Pos V – Pos VI Samyang Jampang: 30 menit
·         Pos VI – Pos VII Samyang Kendil: 30 menit
·         Pos VII – Pos VIII – Puncak Slamet/Bibir Kawah: 2 jam
·         Memutar puncak bibir kawah: 30 menit
Sekitar 15 menit meninggalkan pos IV yakni Pondok Samaranthu kita akan menemukan sumber air yang berupa sungai kecil. Dari sini kita bisa mengisi persediaan air apabila sudah habis. Setelah melewati Pondok Samaranthu medan pendakian akan mulai terbuka. Kita akan sampai pada padang rumput. Para pendaki biasanya akan mendirikan tenda di pos 5 serta pos 7. Jika ingin summit attack subuh hari, kamu bisa mendirikan tenda di pos 7. Dari sini, butuh waktu sekitar 2 jam untuk sampai ke puncak Slamet




Catatannya Borii Wednesday, 13 July 2016
GANTOLE Wonogiri Beserta Waduk Gajah Mungkur + rumah piring
​libur lebaran tlah tiba….
Asik guys, ketemu sodara ketemu mbah ketemu sepupu ketemu pakde bude bulik ketemu cicit, mantan ada nggak yahh wkwkk…. (Lanjut ajalah)

Hai, guys. Udah dateng nih lebaran dan mumpung di Wonogiri sempetin main main ahh kali aja ada yang bening bening *cobaaa ituuu… 

Pagi itu sebenarnya aku sudah diniatin sih dari malam harinya, bangun pagi pagi tanpa mandi dan gosok gigi hahaha *jorok dikit kaga papa lah

Bingung karena suntuk nggak ngapa ngapain. Tak ajak aja sodara sepupu laki laki sebut aja namanya “Herma” dia jomblo anak UIN Jogja. Calling dan liat teman-teman uda pada asik dengan tripnya masing-masing. Statusnya pada “otewe” cuy. Lihat aja, depe bebe-em-nya aja pada di pantai ama gunung, beberapa asik dengan air terjun. Sementara diriku??? Aiiiiih, melongo di rumah. Haha.

Okelah, aku juga punya cara sendiri dalam menikmati weekend ini kok. Oia, catat ya guys, sesekali kalian harus menikmati salah satu fase indah dalam hidup ini (baca= jomblo), dengan jalan-jalan.
Siaaap? Ayok mulai perjalanannya guyz mumpung di Wonogiri.

Dalam pikiran saat itu, ada satu tempat yang akhir-akhir itu mengganggu pikiranku. Iya, aku pengeeeen pake banget kesana. Yaaa…, dari pada keinginan itu tumbuh menjadi jerawat liar di  wajahku, okelah, harus dituruti. Ambil kunci motor, pake helm lanjut gaaaas dan bawa kamera kesayangan….
Tanpa membawa tas dan cuma membawa diri dan kamera ditambah hape sudah cukup karna deket sih dari rumah sie mbah, kurang lebih dua puluh menitanlah 

Salah satu tempat yang menggodaku sejak lama adalah Gantole Wonogiri. Gantole itu semacam bukit gitu, yang digunakan untuk start lepas landas para penyuka paralayang. Tapi eh tapiii, di gantole tersebut sekarang sudah jarang digunakan lagi. Entah karena apa. Yang pasti, sekarang gantole tersebut dijadikan sebagai tempat wisata yang dikelola oleh warga sekitar. (Pemikiran yang Bagus warga)

Siap gas. Yuhuuuuu
ketika masuk kota wonogiri, apalagi saat sebelum memasuki kecamatan Wuryantoro, terlihat waduk gajah mungkur,

Tanya jalan ama orang yang di pinggir jalan dan tukang parkir, akhirnya sampai juga di jalur ke arah waduk gajah mungkur. Kenapa? Karena gantole ini terletak 2 km sebelum waduk gajah mungkur. Acuannya adalah gapura ini nih… *lihat foto dibawah. Berada di kanan jalan yak. kanan jalan 2 km sebelum waduk gajah mungkur



Masuk di gapura tersebut, langsung disambut dengan jalan menanjak. Wuus…. tapi, jangan khawatir, aku yakin motor kalian mampu kok. Aku aja pakai motor matic fine aja. Hehe.

Awalnya sih, jalannya halus untuk kelas jalan pedesaan, tapi, ketika hampir sampai gantolenya, jalan makin menanjak dengan kemiringan bisa sampai yaaa… sekitar 70 derajat plus bonus jalan aspal rusak. Hehe. Jadi, pintar-pintar milih jalan yang halus aja. Tapi tenang jalanannya halus mulus koq *tetep kalem dan safety guys
Yuhuuu, sampe juga di tempat parkir gantole wonogiri.

Tapiiii…, kok… kok… kok…. *clingukan. Kok beda ama yang ada di foto instagram? Padahal spot foto di atas batu itu yang aku inginkan.

Daripada bingung, mending nanya aja ama tukang parkir. Setelah aku lihatin fotonya, tukang parkir itu bilang, kalau tempat yang aku maksud berada di gantole pertama, sementara yang disini adalah gantole kedua. *wadduuu…. ^_^>. Tapi tak apalah.

Sayanglah udah ampe disini jika langsung putar balik ke gantole pertama. Jadi, gantole kedua ini letaknya lebih tinggi daripada gantole pertama. Setelah menaiki tangga, kamu akan bisa melihat luaaaasnyah waduk gajah mungkur. Wuuuw, keren abis. Dulu saat ke waduk gajah mungkur, malah terlihat biasa aja tempate. Tapiiii, kalau dilihat dari sini, emejiiiiing guys. Di atas situ ada lapangan luas, ada tempat duduk, lalu ada semacam spot lintasan lepas landas paralayang. Naaah, disitulah biasane banyak orang berjejeran. Entah yang jomblo duduk sendirian, ato rame-rame ama temene, atau berduaan mesra dengan pacarnya. Aseeeek. Haha

Karena aku sampe sana masih pagi banget, jadi masih rada sepi, hanya ada beberapa orang, ada 1…2…3 *oiy mana pada kemana coba.

gitu mungkin pasangan muda-mudi pacaran. Lalu ada 2 cewek yang asik foto-foto. Naaah…. ehem…. uhuuuk….. *mendadak batuk. Haha.

Datang sendirian nih, bingung kan mau foto gimana. Hanya bisa duduk, lalu motoin sepatuku dengan background waduk gajah mungkur, atau kalau nggak selfie yang hanya terlihat kepalaku masih dengan background waduk gajah mungkur.

Kan pengen yak, bisa foto seluruh badan gitu, akhirnya iseng aja deketin 2 cewek tadi.
“Mbak… mbak… minta tolong fotoin donk,” pintaku pada mereka.
Ehem… ini bukan modus loh… haha.
Klik….klik…. jepreeet… *aseeek dapat foto full body..

Abis itu, ngobrol-ngobrol bentar dengan 2 cewek tadi, yang ternyata berasal dari wonogiri dan sukoharjo.(mayan lah dari rumah mbah heheee)
ini foto full body dari gantole kedua. hasile jepretan cewek cantik nih..




Ajib Santai Sejenak sambil menikmati






Puas di gantole kedua, namanya “Puncak Joglo” dan ini baru dipasang, tahun kemarin 2015 belun ada masih kosong selesai berfoto ria di gantole kedua yuk cuss saatnya turun ke gantole pertama. Yuuuk….
Turuuun aja terus, perhatikan kanan jalan, jika uda ngelewatin SD, lalu ada belokanan ke kanan, dan ada portalnya, berarti anda sudah sampai. Tinggal belok aja kesitu.
Aaaah…. akhirnya sampai juga.

Yaaah, bingung lagi. Lah, mana batu besarnya? Kok setelah menaiki tangga, Cuma ada lintasan lepas landas paralayang, lalu ada sebuah tempat kayak makam gitu. Hmmmm.. *mikir keras.
Asal jalan aja terus sampai pojokan, eh, ternyata ada jalan kecil menurun menuju sebuah batu besar. Yap, sesuai dengan apa yang aku inginkan. Hehe.

Sepiiii banget saat itu, padahal hari minggu. Hanya saja, emang sih saat itu cuaca rada panas cerah gitu, jadi wajar aja kalau saat itu sepi orang. Hanya ada beberapa orang pacaran, tapi hanya berada di atas, nggak turun ke batu itu.

Turun pelan-pelan, jalanan tanah, aku langsung naik di atas batu besar itu.
Subhanalaaaah…… waduk gajah mungkur terasa begitu dekat, luasnya seperti dapat ku peluk. Jika kau di waduk gajah mungkur airnya terlihat coklat, tapi kalau dari gantole situ, airnya terlihat berwarna biru. Kereeen en emeejiiiiing guys. Sumpah!! Nggak rugi jauh-jauh ampe sini.


*Foto lintasan lepas landas paralayang*
*Foto tahun 2015 pas belum ada papan nama*


*Foto 2016 saat sudah dipasang tulisan “Watu Cenik” *
ini beberapa foto yang diambil dari gantole pertama
di atas batu itulah yang menjadi daya tarik untuk menjadi spot hunting foto di gantole wonogiri
Okelaaaah…. puas nggak puas. Tapi, suatu saat aku akan kembali kesini lagi. *kan belum keturutan pose foto yang diinginkan. Hehe.

gimana? ajiiiib kan? gantole + waduk gajah mungkur = jodoh.(nggak taulah kemana dia) mantan (masa lalu jangan dikenang) heheee
iya!!! jodoh yang memperkaya keindahan alam indonesia.
Sudah ya sudaaah, pukul 08.30 aku balik ke parkiran. Cuus pulang lanjut kondangan.
Baliknya sih pelan-pelan sambil menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. … Jangan lupa mampir juga ke objek wisata Gajah Mungkur dan rumah piring jaraknya dekat dari tempat gantole..

Berikut biaya yang aku habiskan borii backpacking ini.
Tiket parkir 2 gantole                                      :   4.000
Tuuuuh kan, Cuma dengan Rp 4.000 braaaay, murah abis. Sebanding  dengan apa yang bakal kau peroleh. Lebih malah. Serius.

Jadiiiii…. kapan kalian Gantole Wonogiri? Ah, andai yang aku lihat juga kalian lihat. Kalian bakal langsung gaaaas ke tempat ini. hehe.
Udahan yaa….

Sampai jumpa dengan destinasi menarik perjalananku selanjutnya.
Bang Borii akan kemana lagi? Tunggu trip selanjutnya.


Catatannya Borii Saturday, 9 July 2016